Bersama Kuasa Usaha at Interim KBRI Cairo, Teuku Darmawan

Dari kiri: Syafruddin Mukhlis (Ketua DPD Mansoura), Nur Furqon Nashrullah, Lc. (Ketua DPD Tanta), Amrizal Batubara, S.S. (Presiden PPMI Mesir), Teuku Darmawan (KUAI KBRI Cairo), A. Solikhan (Ketua DPD Zagazig), Muhlasson Jalaluddin, Lc. (Staf Atdikbud KBRI Cairo).

Gerakan 100 Kunci

Ketua DPD PPMI Tanta, Nur Furqon Nashrullah Mengawali Kepemimpinannya dengan Program Gerakan 100 Kunci.

Wisuda Mahasiswa Indonesia

Resepsi Wisuda Mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar.

Pelantikan Pengurus DPD PPMI Tanta Periode XIX Masa Bakti 2013-2014

Pelantikan Pengurus DPD PPMI Tanta pada Senin, 9 September 2013 di Rumah Anggota.

HOTLINE

HOTLINE Perlindungan WNI di Mesir: +201022229989.

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 November 2013

Rumah Kedua

TELAH lama Danar memendam keinginan untuk membeli rumah baru lagi. Rumah baru yang bisa memberinya kenyamanan dan ketenteraman batin. Tak harus besar dan megah, yang penting rumah itu bisa memberinya kedamaian.

Sering Danar membayangkan, di rumah baru itu nanti ia akan di istimewakan lagi. Pelayanan yang menyenangkan, perhatian yang lebih, cinta yang kembali muda, pokoknya semua yang kini telah hilang dari rumah lamanya akan kembali ia dapat.

Yang rnengganjal dalam pikirannya kini adalah: kelima anaknya pasti takkan menyetujui pilihannya ini, semua mata di luaran juga akan memandang buruk, semua mulut akan menjadikannya menu lezat dalam setiap pergunjingan, dan mungkin juga, ia pun akan kehilangan kelima anaknya jika tak bisa memberikan penjelasan mengapa ia begitu membutuhkan sebuah rumah baru.

Tentu nanti takkan mudah untuk memberikan penjelasan kepada kelima anaknya. Di samping umur mereka yang masih belia, yang pasti butuh waktu panjang untuk dapat memahami kondisi ayahnya-pastilah mereka juga takkan rela jika ayahnya menjadi seorang pengkhianat.

“Yang tertua pasti akan jadi pemimpin adik-adiknya untuk menjadi pembela ibunya kelak,” Danar mengungkapkan kegalauannya kepada Indra, seorang teman yang juga mempunyai nasib serupa dirinya.

Pertemanannya dengan Indra dimulal ketika mereka sama-sama limbung dan ingin menghibur diri di sebuah kafe. Dari keakraban yang semakin terjalin, kini Danar tahu bahwa Indra telah bertindak lebih cepat daripada dirinya. Pengusaha properti itu telah memiliki sebuah rumah baru tanpa sepengetahuan istri dan anak-anaknya.

“Cari saja secara diam-diam, Nar. Daripada kamu tersiksa lama-lama,” Indra menanggapi.

“Tapi lambat laun kan pasti ketahuan, Ndra?”

Lelaki tambun di hadapannya itu malah tertawa keras, “Kalau enggak berani ketahuan, ya enggak usah mikir ke sana lah. Kamu kok lucu sekali, Nar,” mengejek.

Danar terdiam. Ucapan Indra ada benarnya juga. Dibutuhkan keberanian untuk memilih keputusan itu. Ini juga bukan persoalan rasa tega semata. Ini adalah persoalan kebutuhan untuk dirinya sendiri.

**
Malam telah merangkak ke puncak. Danar baru saja pulang dari pekerjaan besar yang amat melelahkan. Hal pertama yang terbayang dalam kepalanya adalah istrinya telah menyiapkan air hangat untuk mandinya. Disusul pijatan ringan di atas tempat tidur sekadar untuk menghibur tubuhnya yang telah disergap Ielah dan penat. Atau kemesraan-kemesraan kecil sekadar untuk mengusir jenuh yang membuntutinya seharian tadi.

Namun hawa itu nyatanya masih saja tercium ketika Danar keluar dari mobil yang telah ditepikannya di garasi. Dan aromanya semakin kuat tercium. Mbok Jum yang membukakan pintu untuknya. Sepi. Ia tertegun sejenak di ambang pintu.

“Ada apa, Pak?” tanya perempuan paruh baya, yang telah dua puluh tahunan mengabdi kepadanya.

Perempuan yang telah dlanggapnya sebagal pengganti mendiang ibunya itu mungkin saja juga sudah mencium kemelut yang mengepung hatinya. Terlihat dari perhatiannya yang belakangan tampak berlebih, seolah Danar adalah anak kandungnya sendiri. Namun tetap saja semua itu tak bisa mengurangi sepi yang terus-terusan menguntit Danar belakangan ini.

“Tak apa-apa, Mbok. Tidurlah. Terima kasih,” ia melangkah dengan perasaan tak nyaman.

Tiba-tiba saja ia merasa seperti telah tersesat masuk ke dalam sebuah hutan belantara. Sepi dan ngelangut mengepung. Dingin. Menyeramkan. Danar ingin lari saja dari tempat itu. Tapi lari ke mana?

**
Semuanya seperti lintasan-lintasan mimpi dalam kepala Danar.

“Meski kecil dan sederhana, aku yakin kamu pasti akan suka dan betah tinggal di dalanmya.”

Indra yang menunjukkan rumah itu. Mungil, sederhana, jauh dari hiruk-pikuk kota, dan terasa sejuk di mata. Tak butuh waktu lama untuk memutuskan. Rumah baru itu ia beli tanpa sepengetahuan anak istrinya. Bahkan untuk menikmati kenyamanan yang telah lama diimpikannya itu, Danar pun rela berbohong kepada istri pertamanya dengan berbagai macam alasan.

Rasanya seperti kembali muda lagi. Suasana dan pelayanan di rumah baru mengingatkannya pada masa-masa awal berumah tangga. Semangat hidupnya tumbuh berlipal-lipat. Semua urusan berat dalam pekerjaan bukan lagi menjadi siksaan. Hari jadi penuh pelangi. Dua puluh empat jam dalam sehari jadi terasa kurang.

“Bagaimana rasanya?” tanya Indra suatu ketika.

Danar hanya tertawa. Tentu saja Indra tak membutuhkan jawaban dari pertanyaan itu, karena ia juga memiliki dua rumah tanpa pengetahuan istri pertamanya.

Saat kembali bermalam di rumah lama, semua benar-benar terasa berbeda. Tak ada lagi lolongan kesepian saat semuanya telah dibekap malam. Tak ada lagi jenuh yang selalu berusaha membunuhnya diam-diam, karena malam-malamnya telah kembali terisi mimpi-mimpi penuh wama. Cinta yang baru mekar membangunkan apa-apa yang semula membeku. Meski anak-anak telah besar dalam dunia mereka sendiri. Meski istri tuanya tak lagi memperhatikan detail perasaannya dan lebih suka sibuk sendiri mengurusi anak-anaknya.

Kini, tujuh hari Danar jadi terbagi. Empat hari di rumah lama, tiga hari di rumah baru. Selama beberapa minggu ia sanggup bertahan seperti itu. Namun, lama-lama akhirnya ada perasaan sayang yang membuatnya ingin lebih lama menikmati kenyamanan rumah baru.

Bukan hanya soal suasana baru yang membuat betah. Betapa banyak hal-hal baru lainnya yang ia dapati di rumah baru, yang tak pernah ia dapati di rumah lama. Perhatian, keromantisan, segala suasananya seakan membuatnya muda kembali.

**
TELAH lima hari Danar tinggal di rumah barunya. Ia tinggalkan alasan seperti biasanya di rumah lama; urusan kerja. Tentu saja kerja untuk menyenangkan diri sendiri. Telah lama ia menginginkan hal ini. Sesekali memanjakan diri sendiri. Toh keluarganya tak pernah ada yang peduli menyangkut hal itu.

Hari keenam ia pikir akan berhasil menyudahi kemalasannya meninggalkan rumah baru. Namun ternyata tak, Danar malah semakin nyaman dan semakin enggan beranjak dari segala yang memanjakannya. Cinta, perhatian, kehangatan, dan suasana di runah baru benar-benar mengembalikan kemudaannya lagi. Hingga hari ketujuh berlalu, dan terlintaslah sebuah pikiran nakal dalam benaknya; ia akan memberikan lebih banyak harinya untuk rumah baru saja. Toh pulang ke rumah lama rasanya seperti pulang ke kuburan.

Namun alangkah terkejutnya Danar pagi itu. Ketika ia bercermin sehabis mandi, sama sekali tak ia dapati bayangannya. Seolah ia tak memiliki tubuh yang dapat ditangkap oleh cermin itu!

Ia meraba-raba tubuhnya sendiri. Jemarinya masih bisa menemukan tubuhnya itu. Tapi mengapa cermin tak bisa menangkap bayangannya?

“Cintaa…!” setengah teriak Danar memanggil istri mudanya.

“Coba sentuh tubuhku, raba, peluk, apakah jasadku ini nyata?” perintahnya setelah istri mudanya tergopoh-gopoh datang.

“Bagaimana? Apakah tubuhku in nyata?”

Perempuan muda itu berkerut-kerut keningnya.

“Cermin itu tak menampakkan bayanganku,” mengajak istri mudanya menatap cermin.

“Lha itu bayanganmu. Iiih...., Mas Danar aneh-aneh saja,” menunjuk bayangan lelaki di sampingnya dalam cermin.

“Benarkah? Mana?” masih juga tak bisa melihat bayangannya dalam cermin.

Merasa dikerjai lelakinya, perempuan muda itu pun meninggalkan lelakinya sambil ngedumel. Kembali kepada pekerjaannya di dapur.

Sementara itu Danar masih saja merasa aneh dan cemas. Ia merasa, sepertinya jasadnya masih tinggal di rumah lama. ***
Penulis: Adi Zamzam (Pikiran Rakyat, 3 Juni 2012)

Rabu, 09 Oktober 2013

Israel Daniel

Popor senapanku terangkat. Mataku beradu dengan mata wajah polos di hadapanku. Rasa benci tiba-tiba menjalari hatiku membalas tatapan kebencian bocah delapan tahunan, yang mengacungkan batu sekepalan tangan ditujukan kepadaku.

“Dia musuh masa depanmu, merampas tanah yang seharusnya hanya milikmu.” Suara Rabbi Shahak seolah-olah berdesis di telingaku. “Antisemit dan primitif,” lanjutnya berulang-ulang, hampir setiap hari sambil memperagakan gerakan mencium Tembok Ratapan. Mungkin saat itu aku baru lima tahunan.

Suara-suara mengejekku dari belakang seolah-olah aku tidak berani menghadapi bocah Palestina ingusan ini, semakin memicu amarahku. Kukumpulkan rasa marah itu di ujung pelatuk pistolku. Senapanku menyalak sebelum batu di tangannya bersarang di mata kiriku. Aku masih sempat melihat peluruku begitu jitu menembus dada kirinya. Darah segar muncrat membasahi seragam sekolahnya.

Anak itu meneriakkan sepenggal kalimat bahasa Arab yang sering dikumandangkan di masjid-masjid. Tak ada rasa takut sedikit pun dari suaranya. Seakan dia bangga menjemput maut setelah mengadang tank kami di jalanan hanya dengan batu di tangan. Sendirian!

Kepalaku terasa berputar. Batu dari tangan bocah itu seperti membuat bola mataku pecah. Rasa kebencian yang terpancar dari sorot mata bocah Palestina itu ternyata mampu menghasilkan energi yang luar biasa dahsyat. Bocah itu telah lebih dahulu rebah sebelum akhirnya aku juga terjerembap, bersimpuh memegang mata kiriku.

Sebelum benar-benar gelap, sesosok bayangan wanita seperti melintasi pandanganku. Tangannya berusaha menggapaiku. Namun, akhirnya dia jatuh tertelungkup menimpa tumpukan tubuh di hadapannya. Kelebatan itu terlihat seperti nyata. Aku menangis sekuat tenaga ditarik seseorang dengan keras menjauhi tumpukan tubuh bermandikan darah. Sketsa mengerikan itu mengantarku ke dalam lengang.

Sesaat kesadaranku hilang. Hanya terdengar suara gaduh, ingar-bingar yang jauh, lalu diam. Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Aku tersadar kembali saat mendengar suara tembakan beruntun beberapa kali. Aku berusaha membuka mata walau kepalaku terasa berat. Aku bergidik! Tubuh bocah kecil itu ternyata sedang ditembaki beramai-ramai oleh rekan-rekanku. Tubuh bersimbah darah itu berkedut beberapa kali setiap timah panas menembus tubuhnya, sampai akhirnya dia mengejang. Sepertinya semua rekan-rekanku tak ingin kehilangan momen berharga mengakhiri riwayat bocah kecil penggenggam batu yang berani-beraninya melawan tentara Israel hanya dengan batu di tangan. Mungkin masih terlalu dini baginya untuk tahu sepak terjang Stern, Irgun, dan Haganah dulu menghancurkan De’ir Yasin (i).

Aku tercekat dengan pemandangan mengerikan di hadapanku. Aku ingin berpaling, tapi entah mengapa tangan Rabbi Shahak terasa seolah-olah mengelusku, memberi kekuatan dan memberkati hari pertamaku bertugas dalam wajib militer.

Anggota patroli yang belum semuanya kukenal baik kembali berlompatan menaiki tank-tank dengan wajah terlihat puas sambil melempar joke penuh cemoohan kepada bocah Palestina yang baru saja kami habisi. Perjalanan dilanjutkan untuk mengontrol pelaksanaan jam malam yang sebentar lagi akan diberlakukan.

Aku lebih banyak diam saat mata dikompres. Ada sedikit rasa shock di hatiku dengan pemandangan yang baru aku alami dan aku terlibat langsung di dalamnya. Selama ini aku hanya mendengar cerita dari teman-temanku yang ikut wajib militer.

“Jangan terlalu dipikirkan, Daniel,” Mitchel Fisk, teman sefakultasku yang telah lebih dahulu memasuki wajib militer menepuk bahuku.

“Saat pertama kali ikut patroli aku juga mengalami shock yang sama sepertimu. Nanti juga kau akan terbiasa,” Fisk menawarkan permen karet di tangannya. “Lumayan, untuk mengurangi stres,” ujarnya. Aku terdiam sembari mengunyah permen karet. “Apa mungkin aku nanti akan bisa terbiasa dengan kondisi ini?”

Tank-tank kami melewati pinggiran kota, menyusuri tembok pembatas yang membelah Yerusalem. Tembok sepanjang seratus tiga puluh kilometer dengan tinggi sepuluh meter yang dulu dibangun atas inisiatif Perdana Menteri Ariel Sharon ini terlihat begitu angkuh dengan sistem monitor canggih yang di pasang di atasnya.

Di ujung jalan yang tidak bertembok pembatas, banyak warga Palestina sedang antre untuk melewatinya. Para tentara Israel bersiaga di sana. Semua warga diperiksa, mulai dari cek kartu identitas, digeledah, bahkan sampai ke pakaian dalam.

Aku melirik jam tanganku. Tinggal lima menit lagi menjelang jam lima saat akan diberlakukannya jam malam. Tapi, sepertinya masih banyak warga Palestina yang belum menyadari percepatan jam malam kali ini. Karena, memang perubahan ini diambil tiba-tiba saja tanpa alasan yang jelas oleh pimpinan IDF (ii) wilayah Tepi Barat.

Ini bukanlah kali pertama adanya perubahan jam malam tanpa sosialisasi. Walaupun aku seorang Israel, tapi ini suatu yang kurang masuk akal dilakukan organisasi sekaliber IDF. Tapi, aku tak punya waktu untuk berpikir lebih lanjut.

Di ujung jalan, di persimpangan ke arah perumahan Ramat Shlomo, seorang laki-laki berkafiyeh berjalan dengan arah menjauhi pemukiman.

“Wah, ini jatah kita nih!” seru Tom Shlaim, perwira menengah yang duduk di bagian depan tank tergelak senang.

Lewat satu menit dari jam lima! Ini adalah kartu mati bagi warga Palestina yang masih berada di luar rumah. Kami berlompatan ke depan pria berjanggut yang terlihat kaget dengan kedatangan kami.

“Anda melanggar jam malam,” komandan patroli kami Mayor Ehud Oron menodongkan senapannya hanya berjarak sepuluh senti di depan kening lelaki itu. “Keluarkan kartu identitas!”

“Geledah!” suara mayor yang pernah ikut membuldoser orang-orang Palestina di lokasi penampungan pengungsi sipil dalam Operasi Jenin pada 2002 itu menggelegar.

Serdadu-serdadu berlompatan dari atas tank-tank seperti serigala lapar melihat rusa yang terkepung, menyeringai siap menerkam. Mereka berlomba mendekati lelaki separuh baya itu yang dengan tenang melirik jam tangannya. Sepertinya dia menyadari telah ada perubahan jam malam yang dipercepat secara sepihak oleh Israel.

Laki-laki itu tersenyum samar seperti paham dengan jebakan Israel kali ini. Senyumnya ternyata justru membuat kemarahan serdadu Israel menggelegak. Bertubi-tubi pukulan dan tendangan keroyokan mendarat di perut dan pelipis laki-laki itu. Laki-laki itu terbungkuk menahan sakit. Tubuhnya sempoyongan. Darah segar menghambur dari mulutnya.

Melihat lawan makin tak berdaya, gerombolan pasukan Israel makin beringas menghajar laki-laki itu tanpa ampun. Sungguh sebuah aksi tanding yang sangat tak berimbang.

“Ayo Daniel!” teriak Mitchell dengan isyarat tangannya agar aku ambil bagian dalam aksi ini membuatku tergagap.

“Adalah tugas mulia kita, menyediakan ‘tanah tanpa manusia untuk manusia tanpa tanah (iii)’, ” teriak Mitchell lagi. Kalimat itu telah kudengar hampir setiap hari saat aku melewati hari-hariku di Kibbutz (iv). “Yoshua datang dan memusnahkan penduduk Jericho (v) adalah misi Tuhan! Tidak boleh ada satu orang pun dari mereka yang tersisa!” jawaban seperti itu selalu diberikan Rabbi Shahak sambil membuka Perjanjian Lama saat aku bertanya mengapa Israel harus terus-menerus menghabisi Palestina.

Aku masih terpaku saat tubuh laki-laki Palestina itu oleng. Aku tercekat ketika sebuah hantaman keras senjata laras panjang seorang serdadu Israel menghajar tengkuk lelaki itu yang membuatnya tersungkur di tanah. Rasa kagetku belum hilang saat Letnan Moshe Ildad melompat ke atas tank. Berteriak menyuruh pasukan Israel menghindar dari tubuh lelaki Palestina itu dan bersiap menjalankan tank. Aku menahan napas di tengah sorak riang pasukan Israel menyemangati Ildad. Tank bergerak seperti sebuah tarian maut yang gemulai, menikmati setiap putaran rodanya menuju tubuh yang tergolek tak berdaya di jalanan beraspal dan siap menggilasnya.

Aku menutup mataku tak hendak melihatnya. Namun, pemandangan yang tak kalah mengerikan hadir menggantikan. Di depan mataku, siluet tumpukan tubuh laki-laki dan perempuan tumpang tindih. Dan, perempuan terakhir yang mencoba menggapaiku tersungkur, berteriak keras melihat buldoser mendekat ke arahnya. Pemandangan berikutnya tak dapat kusaksikan kecuali teriakan histeris perempuan itu serta suara-suara jerit kesakitan yang menyayat, mungkin dari tumpukan tubuh manusia itu. Aku tidak dapat menyaksikannya lagi, karena tubuhku ditarik seseorang dengan keras dan dipalingkannya.

Aku refleks membuka mata mendengar raungan keras keluar dari mulut laki-laki yang setengah jam lalu masih berdiri gagah di hadapan kami, saat roda-roda tank mulai menyentuh tubuhnya. Aku menahan napas melihat cairan putih berloncatan keluar dari kepala laki-laki itu. Tubuh itu kini tak berbentuk. Serpihan daging dan genangan darah membanjirinya. Aku menelan ludah pahit. Serdadu-serdadu Israel bersorak dan bertepuk tangan menyalami Ildad, seolah mayor itu telah berhasil melaksanakan sebuah misi penting. Setelah itu mereka kembali berlompatan ke atas tank bersiap mengakhiri patrol hari ini.

●●●

Aku mengempaskan tubuh di tempat tidur masih mengenakan seragam wajib militer. Rasa pusing dan mual menyesaki perutku. Sungguh sebuah hari yang melelahkan pada hari pertamaku menjalani wajib militer ini.

Aku berusaha menutup mata. Namun, bayangan kejadian hari ini memenuhi pikiranku. Anak kecil pelempar batu, tubuh laki-laki Palestina yang hancur, serta sebuah bayangan perempuan yang berulang kali muncul, entah dari mana asalnya, berusaha menggapaiku di tengah tumpukan manusia tumpang tindih dalam genangan darah. Bayangan terakhir awalnya masih samar, namun makin lama terlihat semakin jelas. Aku mengumpulkan segenap ingatanku untuk memahami bayangan itu. Sebuah tanya bolak-balik menghantuiku. Siapa perempuan di tengah tumpukan manusia itu? Entah mengapa perlahan-lahan ada perasaan dekat yang kurasakan saat aku kembali membayangkan wajah perempuan itu. Lalu, mengapa pula aku ada di tengah tumpukan manusia itu?

Aku bangkit menuju ruang kerja Rabbi Shahak. Hari ini ada pertemuan penting di Sinagog Khabaar dan Rabbi Shahak akan mengikutinya mungkin sampai pagi. Tumpukan buku-buku terlihat memenuhi ruangan dan meja.

Seingatku, selama aku diasuh Rabbi Shahak semenjak usiaku sekitar empat tahunan, baru beberapa kali aku memasuki ruang kerja Rabbi Shahak ini. Walaupun Rabbi Shahak terlihat sangat sayang padaku, namun sikapnya sangat tertutup. Banyak hal yang sepertinya ingin disembunyikannya dariku, termasuk keberadaanku di rumahnya sampai saat ini. Dia akan diam seribu bahasa kalau aku bertanya tentang masa kecil dan asal-usul keluargaku. Rabbi Shahak hanya mengatakan bahwa aku adalah “malaikat” yang dikirim Tuhan kepadanya untuk menjadi “pahlawan” bangsa Israel membebaskan “Tanah Terjanji”.

Mataku menyapu seluruh ruangan. Sebuah diary lama dengan sampul penuh debu yang tergeletak di ujung lemari menarik perhatianku. Tak ada yang istimewa yang tertulis di buku itu. Hanya seputar kegiatan harian Rabbi Shahak mengajar dan memberikan ceramah di beberapa sinagoge dan pertemuan. Aku membolak-balik buku itu tanpa minat. Beberapa halaman yang ditulis dengan tinta merah walaupun buram menarik perhatianku.

15 November 1989
Akhirnya pagi ini dia menikahi wanita Palestina itu dan menjadi Muslim. Dia memilih tanggal ini katanya untuk hadiah ulang tahun kemerdekaan pertama Palestina bagi istrinya.

“Sekaligus hari kemerdekaan bagiku,” ujarnya .

Dia telah menjadi Yahudi yang mengkhianati dirinya sendiri.

“Paham Zionisme berlawanan dengan nurani kemanusiaanku,” begitu alasannya. “Walaupun aku adalah Israel tulen”, lanjutnya lagi.

“Tidak! Dia mengkhianati Israel, Tanah terjanji. Tak kan kubiarkan!!!”

Aku menahan napas. Mencari-cari tulisan bertinta sama.

15 Agustus 1990
Katanya anaknya sudah lahir. Aku tak tahu kapan. Sebagai teman akrabnya dulu, aku ditanyai teman-temanku dan juga teman-teman lamanya di sinagoge. Tapi, aku malah tidak tahu informasi itu. Apa yang bisa kulakukan?

Aku mengernyitkan dahi. Teman akrab, siapa teman akrab Rabbi Shahak itu? Aku melanjutkan membaca beberapa buku yang lain. Kondisinya hampir sama, berdebu dan buram. Sebuah tulisan bertinta merah kembali menarik perhatianku.

23 Maret 1994
Aku ikut pasukan patroli. Mereka menyisir dan “membersihkan” lokasi sekitar Al Quds. Itu tempat tinggalnya beserta istrinya. Pasukan yang luar biasa. Mereka mampu “mengosongkan” penduduk wilayah itu walaupun sebagian harus dengan buldoser.

Yang kucari akhirnya kudapatkan. Wajah bocah itu sangat mirip dengan wajah ayahnya. Anak itu berhasil kupisahkan dari ibunya. Kudekap dia agar tak melihat ayah ibunya dibuldoser.

Sekarang dia anakku. Tidak ada lagi Al Hamid Ibrahimi. Kau sekarang adalah Israel Daniel! Akan kujadikan kau Yahudi sejati pengganti ayahmu yang pengkhianat.

Israel Daniel! Refleks aku melihat banner nama di dadaku. Israel Daniel!

Aku terduduk lesu. Beribu tanda Tanya memenuhi kepalaku. Bagaimana mungkin Israel Daniel itu adalah Al Hamid Ibrahimi? Dan, itu adalah aku!

Bayangan tumpukan manusia itu kembali hadir di mataku. Sekarang dapat kulihat dengan jelas wajah kelebatan wanita itu. Wajahnya begitu panik menyadari aku terlepas dari tangannya dan berusaha merebutku kembali dari tentara Israel yang telah merenggutku dengan paksa dari sisinya. Dan, ternyata wanita itu adalah ibuku!

Kepalaku terasa pusing. Bagaimana mungkin Rabbi Shahak yang selama ini aku hormati ternyata memiliki andil yang sangat besar menghancurkan keluargaku, membuldoser ibu bapakku? Begitu rapinya Rabbi Shahak menyimpan rahasiaku demi menjadikanku seorang Israrel. Aku bingung dan tidak mampu memahami perasaanku saat ini. Rasa mual dan benci menyesaki dadaku.

Aku meraba gagang pistol di pinggangku. Aku mencabut banner nama di dadaku. Dalam lengang aku melihat bocah delapan tahunan penggenggam batu dengan tubuh bersimbah darah itu menjelma dalam diriku.


Penulis: Irna Syahrial (Republika, 3 Juni 2012)


Keterangan:
(i) Pembantaian sangat keji di Desa De’ir Yasin oleh Israel pada 9 April 1948. Aksi keji ini menewaskan lebih dari 360 orang dari total penduduk 600 jiwa.
(ii) Tentara Nasional Israel.
(iii) Semboyan kaum Zionis Israel untuk menjadikan tanah Palestina kosong sama sekali sehingga dapat disediakan bagi bangsa Israel yang mereka anggap tidak punya tanah.
(iv) Tempat-tempat pemukiman kolektif di Israel dengan sistem kepemilikan bersama.
(v) Salah satu kisah dalam Kitab Perjanjian Lama yang disitir secara salah dan disalahgunakan Zionis sebagai pembenaran tindakannya membantai penduduk Palestina.

Rabu, 11 September 2013

Sepasang Mata Malaikat

LELAKI itu berdiri di dekat jendela. Temaram lampu kamar, membingkai bayangannya seperti setengah memanjang. Sesaat, aku hanya menangkap nuansa kesedihan di wajahnya. Wajah yang menyiratkan selaksa kepucatan yang membentang seperti iring-iringan awan melingkupi langit. Dia lebih banyak diam, mendengarkan dengan syahdu suara seseorang di seberang. Aku tahu, dia sedang mengangkat telepon istrinya. Tetapi, aku tak mendengar dengan jelas: suaranya pelan setengah berbisik, seperti dengung serangga. Sesekali, ia mengangguk-angguk.

Aku masih meringkuk dibalut selimut. Tapi tiba-tiba, kulihat segumpal warna serupa sisa badai yang menggumpal di sudut matanya. Mata yang membuatku bergidik menatapnya lebih lama. Tak sampai semenit, dia mematikan handphone, kemudian berjalan ke arahku.

"Aku harus pulang," suaranya datar tidak terlalu mengejutkanku. Seperti hari-hari yang lain, dia tidak selalu mengungkapkan satu alasan pun sebelum pergi dari rumahku.

"Apakah istrimu tahu kalau malam ini kau di rumahku?"

Dia menggeleng. Sorot matanya kelabu dan ganjil serasa meninggalkan bekas luka pedih bagai timbunan kardus kumal yang teronggok di tempat sampah. Lama, kami bersitatap pandang. Matanya mendidih, serupa air yang dijerang di atas tungku. Aku ingin bertanya..., tetapi genangan hitam di sudut matanya itu membuatku beringsut. Dan, malam itu, dia benar-benar seperti orang asing yang baru kukenal.

Dia buru-buru berpakaian. Aku hanya menatapnya dengan diam, bahkan ketika ia pergi dengan tergesa dan meninggalkanku yang masih meringkuk setengah telanjang dalam balutan selimut.

***
IA tidak tahu, betapa aku bergidik takut tatkala istriku meneleponku. Meski itu bukan kali pertama istriku tiba-tiba meneleponku saat aku tidur di rumahnya, tetapi malam itu aku serasa digulung ombak berlipat-lipat: hanyut dalam gelombang yang hampir menenggelamkanku. Setelah aku mengangkat telepon, istriku langsung menangis tersedu. Tangisnya pecah, membuat telingaku serasa basah. Kutunggu lama, hingga tangisnya reda. Hening sejenak, sebelum kemudian istriku memintaku pulang. Anakku sakit.

Kabar itu, sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan. Tapi, aku merasakan tiba-tiba menggigil. Tangis istriku bagai gerimis yang turun seketika meninggalkan kepekatan yang membentang di cakrawala serupa kerlip lampu di sepanjang jalan yang mati tiba-tiba dan membuat seluruh kota tergeragap. Seberkas cahaya memudar, berganti gelap. Kesunyian meruncing. Dalam perjalanan pulang, hawa dingin terus menjalar ke seluruh tubuhku. Setibaku di rumah, aku membuka pintu rumah dengan gugup, seraya mencium aroma parfum yang masih tertinggal di tubuhku—sekadar menepis kecurigaan istriku sebelum aku menerabas masuk ke kamar. Tatapan istriku tak menaruh curiga, ketika aku berdiri di ambang pintu kecuali ia terlihat gugup. "Sejak satu jam yang lalu, panasnya tak kunjung turun," tukas istriku.

"Kenapa kau tak langsung membawanya ke dokter..." ujarku tak sedikit pun merasa bersalah.

Kupegang kepala anakku. Panasnya cukup tinggi.

Tetapi, istriku tak segera menjawab. Lama, ia menatapku dengan heran. "Tapi, anak ini butuh ayahnya. Ia tidak hanya membutuhkanku di saat sakit seperti ini. Sayangnya, ayahnya seperti tidak pernah tahu."

"Jika kau tahu aku sibuk, kau seharusnya tak perlu menungguku sampai pulang untuk sekadar membawanya ke dokter," tukasku, sambil membopong buah hatiku, bocah mungil yang baru menginjak 1 tahun itu. "Ayo kita berangkat, sebelum semuanya terlambat dan tambah parah!"

Dalam dekapanku, anakku menggeliat. Kemudian, ia membuka mata. Mata itu, entah kenapa, tidak lagi dingin meneduhkan, melainkan berubah seperti nyala api unggun mata seorang hakim yang mendakwaku dengan tuduhan berat....

***
MATA lelaki itu kemerahan, bagai hamparan jalan di malam hari yang diterpa gemerlap lampu. Dan, sejak kali pertama bertemu laki-laki itu, aku seperti ditelungkupkan pada seraut kenangan. Aku tak tahu, mengapa aku tiba-tiba seperti direnggut perasaan aneh dan ganjil. Aku seketika jatuh cinta. Apa yang kusuka dari lelaki itu? Jujur, ia mengingatkanku akan masa laluku—dua tahun lalu—tatkala aku lulus dari kuliah. Aku masih luntang-lantung, belum mendapatkan pekerjaan layak, dan kerap tidur di rumah teman.

Hingga akhirnya, kehidupanku berubah setelah aku bertemu dengan seorang lelaki yang benar-benar asing bagiku—lelaki yang kemudian menjadikanku istri simpanan. Ia hampir memberiku apa yang aku butuhkan kecuali kepastian.... Ia bisa datang satu minggu sekali, kadang bisa satu bulan sekali, atau bahkan dua bulan sekali. Ia datang ketika butuh, dan ia tidak pernah datang ketika aku sedang membutuhkan kehadirannya pada satu malam tertentu. Hingga semua itu berakhir ketika istrinya tahu keberadaanku.

Dan lelaki ini, tiba-tiba datang dari balik keheningan. Aku tak tahu, bagaimana semua itu bermula. Ia tiba-tiba duduk di sebelahku, ketika aku sedang berpangku tangan di sudut cafe. Ia tersenyum, lalu mengajakku bercengkerama. Di hadapannya, aku seperti hilang.... Ia lelaki biasa, tapi tatapan matanya membuatku luruh. Dalam sekejap, persendianku seperti dialiri getaran aneh yang menjalar ke setiap pori-pori. Mata lelaki itu seperti hamparan laut, tenang dan meneduhkan. Setiap kali aku melihatnya, aku serasa ingin menyelam ke dalamnya....

Aku tidak bisa berkata-kata dan ketika lelaki itu menawarkan kebaikan untuk mengantarku pulang, aku tak kuasa menolak. Sejak itulah, aku sering jatuh sakit ketika ia lama tidak mengunjungiku....

***
SETELAH mengantar perempuan itu, aku pulang ke rumah dengan raut penuh tanda tanya. Istriku—yang biasanya anggun—menyambut kedatanganku dengan cemberut. Tidak seperti biasanya. Ia kali ini tidak tersenyum, tak membawakan tasku—apalagi mau melepaskan dasiku. Sejak ia membuka pintu, ia hanya diam—menatapku dengan mata yang aneh. Aku sudah hafal. Pasti ada peristiwa yang tak ia sukai dan ia memprotesku dengan diam.

Aku meninggalkan istriku yang masih berdiri kaku di balik pintu. Ia menutup pintu, menguncinya dan mengikuti langkahku.

"Noura sakit...," akhirnya ia buka suara.

Aku berbalik, menatapnya dengan raut tak percaya. ”Sakit apa?”

"Demam... Tadi, badannya panas. Aku sudah membawanya ke dokter..."

"Gimana sekarang?" tanyaku penasaran, seraya merangsek ke kamar.

Putriku tertidur, meringkuk dalam balutan selimut. Entah kenapa, aku selalu menemukan setangkup ketenangan yang selalu menelusup dalam hatiku, ketika mataku menatap bola mata mungilnya. Tapi, kali ini putriku terpejam. Aku menempelkan tangan di keningnya. Kening putriku tidak lagi panas.

"Aku tadi menghubungimu berkali-kali.... Tapi sia-sia! Handphone-mu tidak aktif," ucap istriku.

Aku tidak menanggapinya. Ia semakin cemberut bahkan kesal. Aku menciumnya putriku pelan-pelan, tak ingin bangun. Tapi, harapanku kandas. Putriku terjaga. Matanya biru, menatapku. Aku merasa tatapan mata putriku... entah kenapa, tidak lagi dingin meneduhkan, tetapi berubah seperti nyala api unggun yang membuatku bergidik takut....

Dan beberapa saat kemudian, ia menangis.

***
DI mataku, tak ada yang istimewa pada lelaki itu. Ia biasa saja—seperti umumnya lelaki lain. Hanya saja, mata lelaki itu selalu memukau dan membuatku serasa di tepi danau. Setiap aku menatapnya, aku seperti melihat hamparan air yang tenang. Bahkan, ketika aku sudah lama tidak bertemu dengannya, aku.... entah kenapa bisa jatuh sakit.

Aku tidak tahu, kenapa semua bisa tak masuk akal. Dan ketika ia menjengukku, perlahan sakitku pulih. Meski ia datang hanya diam, tak pernah banyak bercerita dan bersenda gurau. Tetapi, kedatangannya telah membuatku bisa tersenyum. Ah, lelaki ini benar-benar aneh.

"Aku ingin pergi ke sebuah danau...," ucapku memecah keheningan.

Lelaki itu diam, dan seperti tidak mau mendengar apa yang aku katakan. Dan aku tahu, dia tak sanggup untuk memenuhi permintaanku. Aku, entah kenapa, merasakan telah meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa ia penuhi. Selama ini, memang tidak pernah ada kesepakatan antara kami. Apalagi, setelah aku tahu ia lelaki yang sudah beristri. Itulah yang membuatku tak pernah menuntut apa pun... Tapi, dia tiba-tiba membuatku melambung.

"Besok jika kamu sudah sembuh, aku akan mengantarmu ke pantai..." ucapnya pelan, seraya mencium keningku.

"Sekarang aku sudah sembuh."

Lelaki itu terbaring tepat di sisiku, kemudian menyibak selimut dan meringkuk bagai sepotong daging dalam kulkas. Tubuhnya dingin dan hampa. Tetapi semua berjalan cepat. Lelaki itu selalu mengerjakannya dengan kilat, sekejap kemudian ia sudah tersengal Aku mendengar lenguhan panjang dan setelah itu, ia berbaring lemas di balik selimut.

Hingga kemudian, seperti yang sudah-sudah, dering telepon selalu membangunkan tidur nyenyaknya. Ia terbangun, buru-buru menyibak selimut, meraih handphone dan berjalan dengan gugup ke arah jendela. Kulihat sisa embun meruapkan basah di sebagian lempeng kaca jendela saat ia mendengarkan dengan syahdu suara di seberang. Aku tahu, dia sedang mengangkat telepon dari istrinya. Tapi aku tidak mendengar jelas: suaranya pelan setengah berbisik.

Setelah hening, lelaki itu berkata pendek, "Aku harus segera pulang."

Aku tak mungkin mencegahnya pergi. Aku tahu, pasti ia pulang lantaran anaknya sakit. Ia pernah bercerita, setiap kali habis menemuiku, pasti anaknya jatuh sakit...

***
Dalam perjalanan pulang, aku benar-benar merasa bergidik dan disesap rasa takut. Itu karena, aku tidak ingin kehilangan anakku. Kalau kulanjutkan hubunganku dengan perempuan itu, aku tak tahu apa yang terjadi dengan anakku. Lama-lama, anakku bisa sakit menahun....

Tiba di rumah, kubuka pintu dengan gugup. Lebih gugup lagi tatkala yang menyambutku bukan istriku, tapi ibu mertuaku. Aku mencium tangan wanita yang telah melahirkan istriku itu dengan takzim, "Kamu boleh sibuk bahkan kerja mati-matian, tapi jika karena kesibukanmu, justru anak-istrimu sakit, rasanya kesibukanmu akan membuat hidupmu hampa."

"Ya, Bu...," jawabku.

Hening sejenak.

"Tapi, bagaimana dengan Noura?" tanyaku gugup.

"Noura tak apa-apa, justru sekarang yang sakit istrimu."

Aku tercekat. Jadi ia berbohong ketika tadi meneleponku? Ah, kenapa aku sekarang ini tidak peka? Aku langsung menerabas masuk kamar dan menemukan istriku terbaring dengan tubuh lemas. Aku duduk di tepi ranjang. Kulihat istriku menggeliat, menatapku dengan aneh.

"Kenapa tadi kau meneleponku mengatakan Noura yang sakit?"

Istriku diam.

"Kenapa kau berbohong?"

Lagi-lagi, istriku diam. Setelah itu, ia menatapku tajam. Dan mata istriku... entah kenapa tak lagi dingin meneduhkan tapi berubah seperti nyala api unggun yang membuatku bergidik. Mata istriku, kulihat seperti sepasang mata malaikat yang tak henti-henti menuduhku; bahwa akulah yang sebenarnya berbohong.
 
Penulis: N. Mursidi (Cerpen Kompas, 3 Juni 2012)

Jumat, 30 Agustus 2013

Urat Leher Burhan

I
EMBUN jantan sudah turun. Pertanda malam segera beralih jadi pagi. Burhan meraih pena dan buku tulis, tebal tiga ratus halaman. Ia pun mulai menulis: Ini masih mengenai sunyi, Bu. Bukan sunyi penjara yang memancing menung-murung; sunyi yang membuat mata seorang tahanan cembung dan pipinya cekung. Bukan. Ini perihal sunyi yang berdenyut hangat di urat leherku. Rentakkan tenaga yang menjalar-menukik ke pucuk jantung. Bersama sunyi itu, bersama tenaga itu, sejalan guliran hari, aku masih ingin memacu tungkai ini berlari. Biar aku kayuh lagi udara dengan kedua daya di tangan. Sekalipun masih harus muncul-menghilang pada satu lapis dimensi, lalu menyeberang ke lapis dimensi yang lain lagi. Tetapi, Bu, bagaimana akan berlari, badan sebatang penyimpan denyut yang masih menjalar melintasi urat leherku ini kini sedang terkurung…

Burhan menutup buku catatannya itu dan menaruhnya di bawah bantal. Itulah catatan untuk ibunya. Sekalipun ia tahu, ibunya tidak mungkin bisa membacanya. Paling tidak, ia telah mengeluarkan segenap perasaan yang masih tergantung tak bertali untuk ibunya. Seterusnya, ia pun mencoba untuk masuk ke dimensi tidur.
II
Seperti sering diucapkannya, hidup laki-laki 42 tahun itu seolah hanya mengenal dua dimensi. Pertama, kenyataam. Kedua, kemayaan. Ia berada dalam kenyataan ketika dirinya pulang ke sebuah rumah di sudut Kota Tua, tidak jauh dari Emma Haven, sebutan pelabuhan sebelum nama dan tempatnya dipindahkan ke Teluk Bayur. Kerumah batu bergaya kompeni itu ia akan mengusung letih di badan, mengetuk pintu, lalu seorang ibu muncul membukakan. Ibunya yang buta sudah sangat hafal dengan tempo dan bunyi ketukan pintunya. Seperti biasa, setelah pintu terbuka, Delima, sang ibu, akan segera meraih kepalanya ke dalam pelukan. Meraba dan mengusap wajahnya seakan mengukur jejak kenangan yang menyisa di situ. Kata sang ibu, ia masih bisa merasakan bahwa wajah itu sangat mirip dengan wajah mendiang suaminya.
Rasa hangat pada urat lehernya juga tekanan napas yang berembus di hidungnya juga sama dengan urat leher dan napas sang ayah. Menurut ibunya, itu bukan semata karena dirinya adalah darah daging sang ayah. Tetapi, hidup yang ia pilih dan yang sang ayah lakoni pun ada kesamaan: sering tidak pulang karena mengurus pekerjaan. Sekalipun mampu membelanjai keluarga dan hidup dalam kecukupan, pekerjaan itu pun tak pernah jelas. Pekerjaan itu tidak ada namanya.
Sering diceritakan ibunya, kalau setiap kali pulang ia suka menempelkan telapak tangannya di urat leher ayah, menjatuhkan kening di pangkal lengan ayah, dan merasakan hangat napas ayah mengembus ubun-ubunnya. Bila sudah demikian, pertanyaan yang pertama kali ditanyakan ibu pada ayah, juga yang menjadi pertanyaan pertama padanya: bagaimana keadaan di luar?
Hanya jawabannya yang berbeda. Jawaban ayahnya: Di luar tak pernah aman, Puan. Titik-titik perbatasan sudah dikepung tentara pusat. Sementara tentara yang dianggap memberontak tidak mau diajak berunding. Perang sulit dielakkan. Aku sudah yakinkan pihak pusat, pernyataan tentara yang dianggap memberontak itu hanya bentuk ketidakpuasan. Lebih tepatnya bukan pemberontakan. Hanya koreksian. Sayang seribu sayang, agen-agen asing telah lebih dulu menggelar dagangan mereka; menebar provokasi ke kepala setiap orang. Kepada teman-teman di daerah ini, aku juga sudah sampaikan keberatan, ongkos revolusi itu mahal. Korbannya tidak sedikit. Sayang beribu sayang, agen-agen asing, dengan motif yang sama: menjual senjata, sudah mendahului niatku.
“Sekarang bagaimana lagi?” Itu pertanyaan ibu untuk ayah berikutnya. “Istrimu ini buta, tidak bisa dengan terang melihat kenyataan dan memberimu pendapat.”
“Kita dilahirkan tidak untuk mengeluh. Kehidupan tidak menerima para pengeluh. Selalu ada jalan keluar. Aku saja yang belum menemukannya!” tanggap sang ayah.
Kalau pertanyaan yang sama disampaikan pada Burhan: bagaimana keadaan diluar, jawab Burhan: Di luar selalu tampak aman, Bu. Tetapi sesungguhnya, negara ini di ambang kehancuran. Bom terror diletuskan dengan agama sebagai kambing hitam. Penyakit ditebar setelah obatnya siap diperdagangkan. Korupsi yang kecil dibongkar untuk menutupi korupsi yang besar. Sengketa perizinan dan penguasaan tanah antara pribumi dan asing sengaja tidak diselesaikan agar selalu ada isu untuk menyangkutkan ketergantungan rakyat kecil terhadap penguasa.
Perang sesungguhnya sedang berlangsung sengit. Tapi perang zaman ini tidak sama dengan perang zaman ayah, Bu. Zaman ayah, perang dengan peluru. Zaman saya ini, perang siasat dan tipu muslihat. Satu pihak menciptakan kesusahan bagi pihak lain yang tidak disenanginya. Pihak yang satu lagi senang melihat lawannya susah. Semua itu mereka tebarkan melalui media informasi. Mereka kuasai informasi. Itulah sebabnya, mengapa ibu saya sarankan tidak usah terlalu sering mendengarkan berita di radio atau televisi. Segalanya telah disusupi pihak-pihak yang ingin mencelakai kemurnian berpikir kita dan ujung-ujungnya menguras kekayaan tanah air kita ini. Ketimpangan yang memantik saling tidak senang itu biasanya digelar dan dijual dari gelombang radio, monitor televisi, dan jejaring internet….
“Sekarang bagaimana lagi?” Pertanyaan sang ibu berikutnya, persis pertanyaan untuk ayahnya dulu. “Ibumu ini buta. Mungkin tidak bisa memberimu pendapat dengan terang. Sejak rumah ini digempur secara mendadak, entah batu entah peluru menghancurkan kaca jendela yang sedang ibu bersihkan. Serpihannya menyusup ke dalam mata ibu yang kanan. Belakang kepala ibu terbentur benda keras. Ibu buta sebelah. Namun, lambat laun penglihatan yang kiri pun mulai rabun. Hanya hati ibu yang mudah-mudahan masih bisa membaca cahaya. Melihat kenyataan hidup kita dengan terang. Pesan ibu, kalau memang benar pekerjaanmu untuk bela negara, ibu merestui berjuang. Silahkan. Ikuti jejak ayahmu. Hanya saja, kurangilah kedekatan dengan partai politik itu. Kalau menurutmu memasuki salah satu partai untuk menggali informasi tidak apa-apa, tapi jaga jarak, Nak. Apalagi partai penguasa. Ibu nyaris susah bernapas setiap kali mendengar berita di radio dan televisi mengenai tingkah parta yang banyak itu….”
 
III
Hiruk-pikuh di luar yang jarang sekali ia rasakan mencerahkan hati, sesampai di rumah, seketika hatinya sejuk kembali. Apalagi setelah telapak tangan ibu menyentuh urat lehernya. Seketika, tanpa ditarik pun, kepalanya akan jatuh di pelukan ibu. Kepala itu seakan ingin berlama-lama di sana. Seakan ingin kembali merasakan damai masa menyusu. Merengek menggeliat di timangan ibu.
Namun, belakangan ada satu pertanyaan ibunya yang selalu membuat kepalanya mendadak tegak: Kapan, ya, ibu punya menantu? Sekenanya, dia akan cepat menjawab: Ketika jodoh anak ibu ini sudah ditemukan, saat itu ibu pasti punya menantu….
Sebenarnya, dia ingin mengadu pada ibunya, betapa rumitnya menemukan jodoh yang cocok dengan kehidupannya. Betapa sering pekerjaan yang digelutinya membuat dia kehilangan waktu untuk memikirkan itu. Tapi, tidak kunjung jadi. Dia masih merasa mampu menyelesaikannya sendiri.
Pranita, perempuan yang sudah didekatinya beberapa tahun belakangan dan sudah dikenalkan pada ibunya, belum sepenuhnya berhasil menguatkan hatinya untuk segera meminang. Apalagi, ibunya justru bertingkah ganjil kalau bicara soal Pranita.
“Apa tidak ada perempuan lain, selain jurnalis itu? Katamu, teman-teman seorganisasimu, para relasimu banyak. Ada guru, dokter, bidan. Kenapa belum ada yang diperkenalkan pada ibu?
Sembari itu, ibu sarankan, carilah pekerjaan yang tetap. Pekerjaanmu yang serabutan itu tetap aneh menurut ibu. Kadang-kadang bekerja sama dengan para penambang batu bara, dengan perusahaan minyak. Pada kesempatan yang sama bergabung pula dengan jamaah pendakwah; dengam misionaris. Lama-lama kamu bisa tidak menemukan waktu yang cukup untuk meyakinkan perempuan yang ingin kamu nikahi bahwa dirimu adalah laki-laki yang bisa dijadikan tempat berlindung.
Kamu pernah bilang, kalau kamu sedang mengabdi pada negara  meski tanpa nomor induk pegawai atau kartu anggota. Tapi kasat mata orang pertama kali tidak melihat itu. Banyak pun uang yang bisa kamu dapatkan, tapi kalau tidak memiliki ketetapan, tidak jelas sumbernya, bisa menimbulkan keraguan. Jangan-jangan kamu belum juga memutuskan menikah hingga kini, gara-gara itu.
Ingat, Han. Ayahmu dulu hilang tanpa tahu di mana rimbanya, mati tanpa tahu di mana nisannya, juga karena keinginan yang sekarang sedang kamu pakai. Hal yang satu itu, ibu harap jangan terulang. Kamu mau hilang tidak dicari, mati tidak dihormati, hidup berkalang urat leher sendiri seperti mendiang ayahmu?
Jadi, karena memang sudah waktunya, lekaslah berbini. Kalau Pranita, aduh, bukannya ibu tidak restu, ibu hanya cemas kalau istrimu Pranita. Dia seorang jurnalis. Kapan waktunya bagi seorang jurnalis benar-benar siap menjadi seorang ibu. Kalau menjadi istri saja mungkin dia mampu. Kalau menjadi ibu? Entahlah. Ibu sungguh tidak mampu untuk tahu….”
Dia sebenarnya ingin memberi tanggapan. Mengenai Pranita yang sudah sangat dekat dengannya kurang lebih enam tahun adalah perempuan baik. Ia juga punya cita-cita yang sama dengannya: berbuat untuk kemajuan orang banyak. Pranita perempuan optimis. Dia termasuk perempuan yang memahami kehidupan dan pekerjaan. Pranita itu, cantik. Dia anak tentara. Dan seterusnya. Namun tidak jadi, lantaran tidak ingin mengecewakan perasaan ibunya.
IV
Rincian kisah mengenai Pranita mengabur setelah salah satu keluarga kerabat mendiang ayah Burhan yang sejak PRRI merantau ke Pontianak pulang kampung. Sudah lama mereka tidak berkumpul. Di sinilah Burhan diperkenalkan dengan salah seorang cucu kerabat sang ayah. Evalisa, seorang dokter spesialis jantung yang oleh para kerabat sering diperolok-olok ketika reuni keluarga besar itu; perawan tua diperkenalkan dengan bujang lapuk.
Evalisa sudah 39 tahun belum juga berjunjungan. Burhan, 42 tahun, juga belum berinduk beras. Maka berdoalah seluruh kerabat: kiranya bereka berjodoh. Agar pulang kampung mereka tidak terasa sia-sia. Akan terjalin lagi benang-benang yang putus setelah perang saudara.
Ibu Burhan terharu. Kepada Burhan dibisikkan: “Apakah doa ibu akan terkabul, Nak? Ibu mau kamu menikahi Evalisa. Menurut ibu, jika hidupmu akan dihabiskan untuk pekerjaan serabutan yang menurutmu mengabdi pada negara, seorang dokter rasanya lebih siap menerima kehidupan macam begitu. Apabila dia segera mengurus kepindahannya ke sini. Jadi….” Panjang lebar sang ibu memberi penjelasan.
Burhan mengamini saja. Kebetulan, kejadian itu beriringan pula dengan kesibukannya mengurus keterlibatannya dengan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat dan beberapa perusahaan yang diberitakan menggelapkan uang Negara triliunan rupiah. Ia tidak hirau lagi dengan rencana-rencana mengenai jodoh. Saat seperti inilah yang ia namakan dengan dimensi kemayaan dari hidupnya. Masuk ke lingkaran benang kusut dan carut-marut.
Sekalipun tetap menjaga komunikasi dengan Evalisa, yang terjadi antara mereka setelah berbulan menjalin komunikasi hanyalah perdebatan yang menegangkan urat leher. Ini tak pernah ia beri tahu pada ibunya. Sungguh, bukan karena Evalisa dokter atau dirinya seorang yang hidup di dua dimensi. Ini jelas karena watak masing-masing. Burhan keras dengan prinsipnya. Evalisa pun kukuh dengan pandangan hidupnya.
V
Suatu kali Ia terilbat dialog panjang dengan Evalisa. Dengan nada tegas EvaIisa menyerangnya. Pada prinsipnya, Burhan setuju argumentasi Evalisa, namun cara Evalisa menyampaikan yang tidak ia sukai. lni terjadi setelah ia menjelaskan pekerjaannya kepada Evalisa. Pekerjaan yang menurut ibunya sendiri adalah pekerjaan serabutan yang mahaaneh. Pranita saja, yang sudah bertahun ia pacari, tidak pernah berdebat soal pekerjaan dengannya. Yang dipahami Pranita, Burhan itu seorang konsultan politik; aktivis kemanusiaan yang bertahan hidup dengan kecakapan berkomunikasi. Tapi, respon Evalisa ía rasakan berlebihan.
“Sepertinya kamu benar-benar telah membiarkan dirimu sama dengan mesin, Han,” demikian kalimat Evalisa setelah Burhan menyampaikan keprihatinannya mengenai perangai kapitalis di Indonesia.”Entah siapa, tanpa kamu tahu, telah memasukkan dinamo ke dalam tempurung kepalamu. Setiap detil gerak pikiran dan perbuatanmu bergantung pada arahan pengendara mesin. Menyibukkan diri karena ingin hidup nyaman dan bebas dari ketakutan. Realistis, dong!
Kumpulkanlah seluruh peristiwa hidup yang dilalui seseorang selama ia hidup. Sejak masih berbentuk mani seorang bapak, kita sudah dimasukkan ke dalam lingkaran bayar-membayar itu. Bagi yang sudah hidup dengan teknologi, bapak diminta ibu memeriksakan kualitas spermanya ke laboratorium, memastikan apakah ia bisa membuahi atau tidak.Ibu juga memeriksakan rahimnya. Apakah bisa dibuahi atau tidak?
Ibu kita pun hamil. Peristiwa bayar-membayar pun terjadi. Hitunglah kira-kira berapa biaya untuk perawatan diri selama mengandung. Kita pun lahir, rincikan pula berapa uang yang harus keluar demi menyambut kelahiran kita. Kita dibesarkan, disekolahkan ke TK, SD, SMP, SMA, kuliah, dan seterusnya.
Dalam pekerjaanmu, yang kamu istilahkan dengan labirin tak berpintu itu pun tak luput dari bayar-membayar, bukan. Sebaiknya, jangan munafiklah!
Pada kondisi lain, kau tak ada bedanya dengan hantu. Bekerja dalam lintasan gaib: pada dimensi yang rumit dan tidak bias dijelaskan secara indrawi. Kau terkurung di sebuah Iabirin tak berpintu. Tidak kunjung bisa terlepas dari upah mengupah.  Mengapa sok idealis, mengatakan profesimu itu berdasarkan panggilan kemanusiaan sedikit lebih terhormat dari profesiku sebagai dokter yang hidup di atas nyawa pasien. Sejahtera di tengah orang yang sekarat?”
Evalisa terpancing untuk marah. Burhan merasa berhasil. Itulah yang diinginkannya. Memahami seperti apa pemahaman Evalisa terhadap pekerjaannya, terutama terhadap hubungan mereka.
VI
Selain itu, Burhan juga ingin memancing sebuah dialog; tukar pikiran; bersilih perasaan. Sekiranya doa ibu dan keluarganya terkabul, Evalisa jadi istrinya, tentu harus ada komunikasi antara mereka. Itu saja. Namun Evalisa terpancing ke perdebatan; bersitegang urat leher. Burhan hanya mengemukakan sejumlah temuannya, betapa tidak berkutiknya profesi kedokteran di negara ini.
Kata Burhan: Perhatikan saja beberapa kasus dari shampo sampai odol; dari makanan berpengawet ke bahan kosmetik; dari pembalut sampai obat keputihan; perang bisnis farmasi dengan perusahaan rokok. Apalagi obat kanker, diabetes, dan jantung, banyak berasal dari kiriman asing untuk diperdagangkan di pasar kita. Dokter kita masih berdiri di posisi konsumen!
VII
Bagi Evalisa, Burhan terlalu ideal memaknai keadaan. Terlalu detail merinci persoalan. Seperti ketika mendiskusikan apa yang sehari-hari terjadi. Dan lintasan rel kereta api hingga ke sepak bola. Dan pencurian ikan di perbatasan sampai ke mafia pelabuhan. Distribusi BBM ke permasalahan pupuk. Tarif dasar listrik sampai ke takdir guru honorer di pedalaman yang lengang. Inilah yang terus bersengketa dalam kepaIa dan dada Burhan. Inilah yang membuat Burhan tidak pernah diam dan bekerja serabutan. Bagi EvaIisa, Burhan seperti filosof yang kesiangan mengusung pertanyaan-pertanyaan klasik yang sudah Iebih dulu dilakukan orang lain.
“Kepada siapa nasib bangsa ini kelak diberikan? Apakah kepada para dokter yang kuliahnya mahal minta ampun itu?” Ini pertanyaan Burhan pada Evalisa yang juga membuat mereka bersitegang urat leher.
“Atau kepada generasi lampu sorot yang bergoyang di bawah kerlap-kerlip lampu panggung pop dangdut? Kau, begitu juga aku, sering menyaksikan sekumpulan anak muda menyeka liur di sudut bibir melihat gemulai goyang penyanyi dangdut. Setelah panggung usai, beberapa orang dalam sebuah acara di televisi mengaku, tidak tahan untuk tidak onani. Goyangan pinggul penyanyi dangdut begitu lekat di kapala mereka, memantik birahi. Namun apa daya, badan hanya sebatang bujang yang malang.
Atau kepada para calon sarjana yang berjuta banyaknya, menunggu diwisuda untuk kemudian terkurung dalam kebingungan. Bingung dengan cara apa meneruskan hidup? Semetara itu, adik-adik mereka di SMK sudah berbekal keahlian. Misalnya, bagi yang mengambil jurusan otomotif sudah bisa merakit mobil.
Bagaimana kalau kepada anak putus sekolah. Bisa juga anak yang memutuskan hubungan dirinya dengan sekolah. Sekolah itu bagi mereka hanya pabrik. Sekolah hanya jelmaan loket penagih utang. Di sana, di gedung yang telah dilokalisasi itu, yang paling sering terjadi hanyalah peristiwa membayar dan dibayar, tidak jauh berbeda dengan bank. Mereka yang memutuskan diri dari sekolah itu berpikir, tiada gunanya menghabiskan umur di selingkaran pagar sekolah. Lebih baik umur dihabiskan uniuk mengembangkan diri sepenuhnya di alam lepas. Tanpa sekolah, juga bisa mengumpulkan uang sebanyak- banyaknya.”
VIII
Burhan, tidak cukupkah belajar dari sejarah keluarga besar kita? Ibu bapak kita lahir dan besar sepanjang perang saudara bergejolak. Mereka hidup tanpa keinginan bersama Iebih lama. Sewaktu-waktu bisa saja salah seorang mereka mati mendadak. Musim paceklik yang panjang. Jangankan beras, garam susah didapat. Orang-orangkembali menanam ketela dan talas. Setiap kepala keluarga membuat lubang di tebing-tebing bukit. Kalau ada pesawat tempur melintas setiap orang bersiap bersembunyi ke dalam lubang itu. Kakek kita memilih jadi tentara. Nenek kita tinggal di rumah, membesarkan ibu dan adik-adiknya. Kakek bergerilya dari hutan ke hutan. Nenek berpindah dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung menyelamatkan untung malang…”
Evalisa tidak mau kalah. Sambil tersenyum tipis, ia beberkan pula alasan-alasannya. “Lantas, kapan bisa menempuh hidup ini dengan nyaman kalau dalam pikiranmu itu melulu persoalan?”
IX
Mataharl meninggl. Embun jantan sudah lama menguap dan kembali pulang ke ruang yang tak tersigi. Burhan duduk berhadapan dengan ibunya. Ini pekan ketlga dia jadi tahanan jaksa Pengadilan Tipikor. Sudah dua kali ia disidang. Dimintai keterangan terkait kasus yang melibatkan dirinya. Selaku aktivis partai politik ia diduga kuat ikut serta menyalahgunakan anggaran pembangunan waduk yang akan dijadikan Pembangkit Listrik Tenaga Air di perbatasan provinsinya. Dan ini kunjungan Dalima, ibu Burhan, yang ketujuh. Dua kali ditemani Evalisa. Karena sibuk mengurus kepindahannya ditambah perasaannya yang tidak begitu berempati, Evalisa tidak pernah lagi tampak mengantarkan Dalima ke LP. Lima kunjungan berikutnya Dalima ditemani pengacara Burhan.
Tangan ibunya tak pernah lepas dari Ieher Burhan. Masih dengan sentuhan yang sama, memeriksa denyut yang merentak di situ.
“Sabar, ya, Nak. Kamu anak tunggal ibu. Cita-cita ibu, cita-cita ayahmu, manunggaI dalam dirimu.” Di sela isak, ibunya tampak berusaha tenang.
“Ibu yang harus bersabar. Ibu tidak boleh sedih, ya. Mata ibu tidak boleh berair,” kata Burhan sambil mengusap pipi ibunya. Membersihkannya dari guliran air tangis yang merambat di sana. Tersentak pula keinginannya melekatkan tapak tangan ke urat leher ibunya.
“Kamu jangan khawatir. Denyut yang ibu miliki masih kuat. Karena ibu yakin, kamu tidak bersalah. Sangat yakin!”
X
Pranita bergegas mengejar Dalima yang berjalan hati-hati dengan bimbingan sebilah tongkat dibantu pengacara Burhan meninggalkan ruang besuk LP. Selama Burhan dipenjara, ini kali pertama Pranita sempat berkunjung. Dua bulan terakhir ia ditugaskan ke luar kota. Pranita ingin sekali mewawancarai Dalima. Sebagai seorang jurnalis, bukan sebagai seorang perempuan yang mencintai anaknya. Ia lngin mengungkap seputar perasaannya sebagai seorang ibu yang anaknya sedang ditahan karena dugaan korupsi triliunan rupiah.
“Bu, tunggu sebentar. Saya ingin bersama dengan ibu.” Pranita Iangsung merebut bimbingan tangan Dalima dari pengacara itu sambil memperkenalkan diri dan mohon izin ditinggalkan. Ia bimbing Dalima ke mobilnya yang sengaja diparkir di pekarangan belakang LP guna menghindari kejaran wartawan lain yang sudah berkumpul di halaman depan. Ia ajak Dalima ke sebuah kafe yang tenang, jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kota yang belum lama ini diguncang gempa bumi itu.
Di kafe yang menyediakan menu minuman tradisional itulah Pranita menanyakan hal-hal menyangkut perkara yang menjerat Burhan hingga terpaksa mendekam di penjara atas dugaan melakukan tindak pidana korupsi. Dalima menjawab semua yang ditanyakan Pranita. Mulai dari kebiasaan Burhan sejak kecil sampai kesenangan Burhan setelah besar. Dari persamaan watak Burhan dengan ayahnya sampai ke cita-cita Burhan menjadi seorang diplomat negara.
Mendengar paparan Dalima, Pranita tampaknya merasakan ada keganjilan pada kasus Burhan. Penjelasan Dalima tidak sedikit pun bisa dijadikan tanda bahwa Burhan adalah seorang koruptor yang rakus sebagaimana diberitakan banyak media. Yang tergambar hanyalah: Burhanuddin, seorang anak berkarakter baik. Seorang anak yang hormat pada ibunya. Punya prinsip dan semangat kuat untuk memperjuangkan apa yang dianggapnya benar Pranita termenung, agak lama. Ia dilamun tanya: ada apa di balik ini semua?
Dalima sendiri merasakan ada kepuasan dapat menjawab seluruh pertanyaan Pranita. Ia telah menyampaikan yang sebenarnya. Ia berharap berita yang nanti disiarkan Pranita bisa membuka jalan terang atas kasus anaknya.
XI
Dalam sel tahanan, ditemani buku tulis tiga ratus halaman. Burhan sering terlihat menuliskan sesuatu sambil mengusap urat lehernya dan menggeIeng-gelengkan kepala. Tidak ada tanda bersalah di wajahnya. Wajahnya adalah wajah orang tercengang. Entah apa yang sedang membuat bibirnya kadang terenyum, kadang mengatup rapat dan denyut di urat lehernya terasa mengencang. Satu hal yang ia sadari, inilah risiko memilih pekerjaan yang menurut ibunya serabutan dan mahaaneh itu. Jika esok atau lusa ibunya kembali berkunjung dan ia masih melihat raut kesedihan di wajah ibunya, ia berniat akan memberi tahu bahwa dirinya, anak tunggal ibu, selama ini bekerja sebagai intelijen negara. Ia ditugaskan untuk membongkar sindikat korupsi di negeri ini. ***

Penulis: Zelfeni Wimra (Cerpen Jawa Pos, 3 Juni 2012)